CIVIC

TPS Sukolilo merupakan tempat pemberhentian terakhir perjalanan kami. Kami bertemu dengan Pak Husein, beliau merupakan salah satu warga yang tinggal di pemukiman tersebut.

Beliau mengatakan bahwa tempat pembuangan sampah yang dahulunya terdapat di Sukolilo telah dipindahkan ke Benowo sejak tahun 2005. Sebenarnya pada tahun 1971 pemerintah berjanji TPS di Sukolilo hanya untuk 10 tahun, tapi kenyataannya lebih dari 20 tahun baru dipindah. TPS dipindah ke Benowo karena di sana lebih luas dan jauh dari pemukiman warga sekitar. Sehingga pada akhirnya, lahan yang di Sukolilo dialih fungsikan menjadi pemukiman pemulung.

Pemukiman pemulung di TPS Sukolilo tertata rapi dan bersih. Saat ini sudah terdapat (kurang lebih) 75 keluarga yang tinggal di pemukiman tersebut. Di tiap-tiap pekarangan rumah, terdapat kolam kecil untuk merawat ikan lele. Per kolam ikan lele nya bisa terdapat sampai ratusan ekor ikan lele.

Di sekitar situ pun terlihat ada tambak-tambak milik swasta yang merawat udang dan mujair.

Menurut pengamatan kami, warga di TPS Sukolilo sudah dapat disebut sebagai masyarakat mandiri, karena tiap-tiap warganya memiliki kesadaran sendiri untuk menjaga kebersihan maupun keamanan wilayahnya sendiri. Mereka pun tergolong masyarakat yang partisipatif, dimana mereka memiliki tingkat kesadaran yang cukup tinggi untuk wilayah sekitarnya, karena tanpa disuruh untuk memilah-milah sampah, mereka dengan aktifnya langsung memilah sampah yang dapat didaur-ulang dengan yang non-daur-ulang. Mereka pun rajin membersihkan daerah pemukiman mereka hingga terlihat asri dan sejuk. Kami sebagai tamu pun terkagum-kagum akan kebersihan daerah pemukim tersebut.

Masyarakat TPS bisa disebut sebagai masyarakat madani karena mereka dapat mencari pekerjaan lain selain memulung sampah, seperti membantu mengelola tambak milik swasta dan membudidayakan ikan lele di pekarangan rumah. Mereka juga mampu bertoleransi dengan menerima pendapat orang lain. Misalnya mereka bersama-sama menata agar rumah mereka tampak berjejer rapi.